THE BAJAU

Home » Pemutaran Film » THE BAJAU

Pemutaran Film - THE BAJAU

Setiap tahunnya Pasar Hamburg memutar film yang mampu memberikan kita kesempatan untuk mendengarkan suara-suara dari sebuah kisah kehidupan yang dikemas dalam bentuk film yang menggugah jiwa. Gambar-gambar hidup yang disuguhkan oleh sinematografer pilihan di Pasar Hamburg akan membawa penonton kepada sebuah pengalaman baru yang akan membuka mata jiwa mereka. Setelah pemutaran film, tema dalam film diaktualkan lewat diskusi singkat dengan pembuat film sehingga bisa menjadi suatu kesempatan untuk menelaah lebih dalam tentang pesan-pesan yang terkandung di dalam film tersebut. Film ditayangkan dengan subtitel bahasa Jerman atau Inggris.

Tema film yang diangkat pada tahun ini adalah mengenai peradaban Maritim Indonesia, mengurai jejek-jejak maritim di masa kini hingga kepada tata kelola dari laut Indonesia sebagai modal poros maritim dunia.

Film dibuat oleh Dandhy Laksono (Watchdoc Indonesia)

 

THE BAJAU

Sutradara: Dandhy Laksono
Bahasa: Indonesia & Bajo (subtitle Jerman)

Dokumenter ini merekam sisa-sisa peradaban maritim di kepulauan Indonesia. Tentang dua keluarga suku Bajo yang dikenal sebagai pengelana (gypsy) laut yang pernah hidup nomaden selama berabad-abad di sekitar Laut Cina Selatan hingga Pasifik Selatan dan Selandia Baru.

Lalu dengan alasan “memberikan kehidupan yang lebih baik” pemerintah negara-negara di Asia Tenggara memulai program memukimkan mereka di daratan agar memiliki identitas dan kewarganegaraan.

Apakah mereka mampu beradaptasi? Benarkah peradaban di darat meningkatkan kualitas hidup?

Dua keluarga Bajo di perairan Sulawesi ini menjalani kehidupan yang berbeda. Meski keduanya telah memiliki identitas dan bermukim di daratan, satu keluarga memilih menjalaninya hanya sebagai formalitas dan tetap menghabiskan hidup di perahu dalam ekosistem laut yang relatif masih terjaga.

Sementara keluarga yang lain menghadapi realitas yang jauh berbeda. Yang menjadi mimpi buruk setiap orang Bajo.

Watchdoc

“WatchdoC adalah rumah produksi dokumenter yang dirintis sejak 2009. Misi utamanya adalah memproduksi film-film dokumenter dengan tema keadilan sosial dan hak asasi manusia. Film pertama kami adalah “Kiri Hijau Kanan Merah” tentang pembunuhan Munir, seorang human right defender yang tewas diracun dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam, September 2004. Sampai saat ini WatchDog sudah menyelesaikan 90 film dokumenter.

Bagi WatchdoC, dokumenter adalah medium audio visual yang strategis yang menggabungkan antara fleksibilitas mobile platform, serta forum-forum off air untuk berdiskusi, di tengah makin ditinggalkannya sumber-sumber informasi konvensional seperti buku dan jurnal.”

Film-film karya Dandhy Dwi Laksono selain mampu menampilkan kehidupan masyarakat dan kecantikan alam Indonesia, juga sarat akan tema-tema yang menarik. Tema-tema yang diangkat pun begitu dekat dengan realitas sosial.

Dandhy Laksono dikenal sebagai jurnalis yang memiliki idealisme istimewa. Ia pernah menempuh perjalanan hampir 20.000 km mengelilingi Indonesia dalam satu tahun bersama seorang fotografer dari Aceh bernama Suparta Arz. Perjalanan itu disebutnya sebagai Ekspedisi Indonesia Biru. “Kala Benoa, dan Rayuan Pulau Palsu” adalah salah satu dari 26 serial Ekspedisi Indonesia Biru.